Pertama-tama kita mari kita syukuri karena pemilihan presiden kemarin berjalan damai. Walau beberapa pihak menyuarakan protes atas kekurangan dan kecurangan di sana-sini, mayoritas masyarakat sepertinya adem-ayem aja. Semoga ini bukan tanda apatisme, melainkan cerminan dari stabilnya suhu politik negara kita. Huru-hara protes hasil pemilu sepeti di Iran pun nggak kejadian. Amit-amit.
Selasa, Juli 14, 2009
Selasa, April 14, 2009
Bule Juga Manusia
Masih nyambung ama tulisan Bahasa Indonesia vs Bahasa English, ini ada blognya orang bule Australi yang faseh bgt berbuahahasa: http://bulejugamanusia.blogspot.com
Btw thanks buat majalah Provoke! atas infonya.
Minggu, April 05, 2009
Bahasa Indonesia vs Bahasa English
Seorang teman gue pernah menyatakan ketidaksukaannya pada bahasa Indonesia. Katanya boros, ribet, nggak asik. dia merasa kesulitan mengekspresikan diri dalam bahasa Indonesia dan merasa jauh lebih bebas pake bahasa Inggris. Lucunya, dia menyampaikan keluhan ini dalam bahasa Indonesia dan gue menangkap dengan jelas apa yang ia maksud.
Seorang musisi indie menyatakan bahwa ia selalu lebih nyaman berkarya dengan bahasa Inggris. Sangat sulit menggabungkan melodi dan kata-kata dalam bahasa Indonesia, katanya. Padahal kalo gue perhatiin, lirik lagu Inggrisnya ngaco. Gue gak yakin kalo pesannya nyampe ke orang-orang. Hmm…
Seorang musisi indie menyatakan bahwa ia selalu lebih nyaman berkarya dengan bahasa Inggris. Sangat sulit menggabungkan melodi dan kata-kata dalam bahasa Indonesia, katanya. Padahal kalo gue perhatiin, lirik lagu Inggrisnya ngaco. Gue gak yakin kalo pesannya nyampe ke orang-orang. Hmm…
Kamis, Maret 26, 2009
Musik Underground Indonesia, Bukan Musik Underground di Indonesia
Pertama-tama kita luruskan dulu. Apakah itu musik underground? Well, saya yakin banyak beda pendapat, tapi kalau menurut saya, musik underground adalah bentuk musik alternatif (apapun itu) dari apa yang sedang "in" alias nge-trend dalam dunia musik mainstream. Musik mainstream erat kaitannya dengan trend dan pangsa pasar yang luas sehingga melibatkan banyak kepentingan. Dalam musik mainstream, apabila suatu aliran musik pada hari ini sedang nge-trend, besokannya bisa jadi basi (spt. ska). Begitu juga, musik underground pun berubah-ubah, seperti ska, yang pada suatu saat masih underground (penggemarnya sedikit, dianggap aneh) sempat menjadi aliran musik mainstream (diterima oleh khalayak luas). Hal yang sama sempat terjadi sama punk(rock), metal, dan sekarang hip metal. Hubungan antara underground dan mainstream dapat diibaratkan seperti laboratorium dan supermarket.
Sabtu, Maret 21, 2009
Positioning Dalam Industri Musik Indonesia - Perlunya Menghapus Mental Bangsa Yang Terjajah Sebelum Bisa Menerapkannya
Tulisan ini sangat diilhami oleh buku ‘Positioning’ karya Al Ries dan Jack Trout. Buku ini sudah lama beredar sejak tahun 1981, namun saya baru berkesempatan membacanya beberapa waktu yang lalu setelah direkomendasikan oleh dosen saya. Saya menggunakannya untuk landasan teori Tugas Akhir saya, yaitu ‘Promosi Album Baru Netral’. Walaupun tidak ditujukan secara khusus untuk kepentingan industri musik dan lebih kepada industri consumer goods, tetapi di dalamnya banyak poin yang saya rasa sesuai untuk dapat diterapkan dalam industri musik Indonesia. Saya juga sempat mengirim e-mail kepada Al Ries, menayakan apakah teori-teorinya bisa dipakai dalam industri musik, ia menjawab bahwa teorinya cukup fleksibel untuk dapat diterapkan di berbagai bidang, termasuk industri musik.
Langganan:
Postingan (Atom)