Gue termasuk orang yang kurang terpengaruh dengan hype tahun baru, karena menurut gue itu cuma akal-akalan pembuat terompet, kembang api, pengusaha tempat hiburan, dll untuk mengeruk keuntungan. Maka daripada merayakannya secara berlebihan, gue lebih suka melakukan introspeksi tahun kemarin dan membuat resolusi untuk tahun yang baru. Mungkin masih terdengar klise dan mainstream, tapi yang membedakannya adalah apa itu benar-benar dilakukan? Apakah sampai bulan Maret resolusinya masih jalan, heh?
Sunday, January 01, 2012
Saturday, September 24, 2011
Indonesia Negara Spakbor
Baru-baru ini gue terlibat dalam sebuah kecelakaan motor. Tepatnya gue yang nabrak motor orang. Untungnya gak ada yang cedera, hanya spakbor (bener ga sih ejaannya?) motor orang itu aja yang somplak (ini bahasa apa ya?).
Kejadian berawal saat gue sedang mengendali motor dengan kencangnya disebabkan gue udah telat ngantor. Dengan mental ingin cepat sampai tujuan, motor gue dipaksa berhenti gara-gara di depan ada mikrolet keparat yang lagi nurunin penumpang. Jadi gue mencoba sabar menunggu penumpang dan sang sopir itu kelar bertransaksi. Dan entah kenapa itu transaksi nggak kelar-kelar.
Label:
indonesia,
lalu-lintas,
motor
Saturday, April 23, 2011
Dua Sisi Periklanan
Dalam dunia kreatif periklanan, ada dua paham yang sampai sekarang masih sering mengundang perdebatan. Yang satu dicetuskan oleh Bill Bernbach: “Advertising is fundamentally persuasion and persuasion happens to be not science, but an art (Periklanan pada dasarnya adalah persuasi, dan persuasi itu bukanlah sains, melainkan seni).”
Sedangkan paham yang kedua dicetuskan oleh David Ogilvy: “I do not regard advertising as entertainment or an art form, but as a medium of information. When I write Advertising, I do not want you to tell me that you find it ‘creative’. I want you to find it so interesting that you buy the product" (Saya tidak menganggap Periklanan sebagai hiburan atau suatu bentuk seni, tapi sebagai sebuah media informasi. Saat menulis iklan saya tidak ingin anda menganggap iklan saya itu kreatif atau tidak, tapi saya ingin anda menilainya begitu menarik sampai ingin membeli produk itu).
Sedangkan paham yang kedua dicetuskan oleh David Ogilvy: “I do not regard advertising as entertainment or an art form, but as a medium of information. When I write Advertising, I do not want you to tell me that you find it ‘creative’. I want you to find it so interesting that you buy the product" (Saya tidak menganggap Periklanan sebagai hiburan atau suatu bentuk seni, tapi sebagai sebuah media informasi. Saat menulis iklan saya tidak ingin anda menganggap iklan saya itu kreatif atau tidak, tapi saya ingin anda menilainya begitu menarik sampai ingin membeli produk itu).
Label:
advertising
Sunday, April 10, 2011
Megang Anak Magang Gampang-Gampang Susah?
Kita semua akrab dengan anak magang. Bahkan, kita pun pernah menjadi anak magang. Tapi mengapa kita sering mengacuhkan, memperlakukan mereka seperti anak tiri? Padahal jelas-jelas namanya anak magang, bukan anak tiri!
By the way, gue akan spesifik ngomongin anak magang di advertising agency, tapi syukur-syukur kalo dirasa dekat dengan bidang yang lain. Oh ya, anak magang juga boleh baca, lho. Yuk, maree…
By the way, gue akan spesifik ngomongin anak magang di advertising agency, tapi syukur-syukur kalo dirasa dekat dengan bidang yang lain. Oh ya, anak magang juga boleh baca, lho. Yuk, maree…
Label:
advertising
Sunday, December 26, 2010
Adu Referensi, Miskin Esensi
Belum lama gue menyaksikan sebuah event yang menampilkan band2 independen (Indie) yang (katanya) cukup disegani. Gue datang berharap mendapat pencerahan karena udah lama nggak liat acara musik model beginian. Namun yang gue temui hanyalah fakta usang bahwa penyakit musisi indie Indonesia belum juga terobati. Apakah penyakit itu, sodara2? Orisinalitas yang minim.
Label:
musik
Sunday, August 15, 2010
Bodyboarder Not A Surfer
Gue punya hobi baru, namanya Bodyboarding. Pasti banyak yang blom tahu makhluk apakah ini. Bodyboarding adalah olahraga seperti surfing (tahu surfing kan?) tapi pake papan lebih pendek dan posisi badan tidur telungkup di papan, nggak berdiri. Walaupun bisa dengan cara berjongkok, tapi lazimnya bermain bodyboarding adalah tiduran.
Terus seberapa pentingkah bodyboarding sampai gue merasakan keresahan dan berujung pada tertulisnya blog ini? Kegelisahan gue muncul karena banyak orang memandang sebelah mata terhadap olahraga ekstrim ini. Begitu gue bilang gue main bodyboarding, tanggapan yang sering muncul adalah: “Kenapa nggak sekalian surfing aja?” Nggak sekalian surfing??? Honey, bodyboarding dan surfing adalah dua hal yang berbeda. Bodyboarding bukanlah olahraga buat orang2 yang nggak bisa berdiri di atas papan surfing. Bodyboarding adalah pilihan hidup yang serius. Coba lihat klip2 di bawah ini. Bodyboarding memerlukan dedikasi yang tinggi dan sama saja susahnya dengan surfing, bahkan bisa jadi lebih.
Terus seberapa pentingkah bodyboarding sampai gue merasakan keresahan dan berujung pada tertulisnya blog ini? Kegelisahan gue muncul karena banyak orang memandang sebelah mata terhadap olahraga ekstrim ini. Begitu gue bilang gue main bodyboarding, tanggapan yang sering muncul adalah: “Kenapa nggak sekalian surfing aja?” Nggak sekalian surfing??? Honey, bodyboarding dan surfing adalah dua hal yang berbeda. Bodyboarding bukanlah olahraga buat orang2 yang nggak bisa berdiri di atas papan surfing. Bodyboarding adalah pilihan hidup yang serius. Coba lihat klip2 di bawah ini. Bodyboarding memerlukan dedikasi yang tinggi dan sama saja susahnya dengan surfing, bahkan bisa jadi lebih.
Label:
bodyboarding
Wednesday, May 05, 2010
Komedi Itu Bernama Politik Indonesia
Anda lagi hangover dan ingin memuntahkan isi perut? Coba setel aja berita politik di TV, pasti keluar semua tuh isinya. Gue gak habis pikir, kenapa "Empat Mata" bisa mendapat teguran, sedangkan tayangan yang menghina kecerdasan masyarakat ini diperbolehkan.
Lucunya yang rame cuma di media. Di jalanan, rakyat ga peduli. Demontrasi2 yang membawa gambar Sri Mulyani dan Boediono yang dibikin seperti vampir itu semuanya bayaran, gak murni suara rakyat.
Lucunya yang rame cuma di media. Di jalanan, rakyat ga peduli. Demontrasi2 yang membawa gambar Sri Mulyani dan Boediono yang dibikin seperti vampir itu semuanya bayaran, gak murni suara rakyat.
Label:
boediono,
politik,
sri mulyani
Subscribe to:
Posts (Atom)