Berita meninggalnya Gus Dur pada tanggal 31 Desember 2009 kemarin emang cukup mengejutkan. Tapi yang bikin gue lebih takjub adalah begitu banyaknya ekspresi duka cita yang muncul di media massa. Praktis setelah wafatnya beliau, tiap halaman koran dan siaran TV dibanjiri ucapan bela sungkawa.
Mengapa mengherankan? Karena semasa hidupnya cukup banyak pula orang yang mencaci Gus Dur. Ia disebut sebagai agen Yahudi, CIA, kiai buta, dlsb. Coba, berapa banyak guyonan tentang kebutaan Gus Dur yang diceritakan tanpa rasa bersalah?
Keikhlasan ucapan duka cita itu patut dipertanyakan. Apakah karena Gus Dur disebut-sebut sebagai tokoh pluralis, sehingga mereka yang berbelasungkawa pun ingin terlihat sebagai pluralis, humanis, demokratis atau apalah namanya? Padahal semasa Gus Dur hidup, boleh jadi mereka jadi sasaran kritik Gus Dur sehingga berdiri di sebelahnya pun mereka tak sanggup.
Tapi mungkin di alam sana, Gus Dur nggak ambil pusing dengan kelakuan para penjilat itu. Ucapan "gitu aja kok repot" adalah warisan terbesar Gus Dur dalam menyikapi segala keganjilan di negeri ini.
Gus Dur The Gusfather
Gus Dur adalah seseorang yang melebihi jamannya. Di saat negara ini masih tergagap-gagap berdemokrasi, ia muncul sebagai figur yang mungkin “terlalu demokratis”. Kadang gue berpikir, alangkah idealnya Gus Dur menjadi presiden APABILA negara kita sudah dewasa. Sayang sekali kehadirannya terlalu prematur sehingga bikin alergi beberapa orang.
Kita sungguh kehilangan negarawan yang bukan cuma pintar, tapi menghibur. Konon, Gus Dur pernah bercerita, atau tepatnya berkelakar soal presiden2 Indonesia yang semuanya gila. Presiden Soekarno=gila wanita, presiden Soeharto=gila harta, presiden Habibie=gila teknologi, dan kalo dia sendiri (Gus Dur), para pemilihnya yang gila! Sebuah guyonan self-deprecating yang hanya bisa dilontarkan seseorang yang luar biasa jujur dan nggak jaim.
Pernah juga gue dengar soal bagaimana Gus Dur mendidik anaknya. Waktu itu anak bungsu Gus Dur, Inayah, mengecat rambutnya dengan warna merah ngejreng. Beritanya ada di mana2. Tapi Gus Dur nggak marah atau melarang sama sekali. Katanya, biar Inayah yang malu sendiri. Benar saja, lama-kelamaan Inayah mengecat hitam kembali rambutnya karena nggak tahan dengan publikasi yang meluas. Ternyata demokrasi diberlakukan juga di keluarganya.
Gus Dur emang mempunyai kekurangan fisik, tapi hatinya lebih ganteng dari kebanyakan orang. Indonesia perlu belajar untuk respek terhadap seseorang nggak dari permukaannya saja. Ciao, my Gusfather...
Mungkin (mungkin lhoo...) pada dasarnya sifat orang bisa dibagi dua: yang tamak dan yang sederhana. Agama sepertinya mengajak kita pada yang kedua. Tapi seberapa sederhanakah? Dan benarkah manusia harus puas dengan apa yang dipunya tanpa ada keinginan untuk menambah lagi?
Tinggal di kota besar seperti Jakarta mau gak mau kebanyakan dari kita terseret ke kubu tamak. Menjadi konglomerat, punya 5 mobil, apartemen mewah, dan kapal pesiar agaknya jadi aspirasi setiap orang. Nggak, gue nggak punya itu semua dan terus terang mungkin gue blom siap berjibaku untuk meraih semuanya. Tapi impian itu tetap ada.
Dan kemudian gue ketemu temen lama gue yang tinggal di Jogja, sebutlah namanya Budi. Budi kerja sebagai sales yang menawarkan fasilitas kredit motor. Dia pilih pekerjaan itu karena waktunya fleksibel, lebih sering jalan2 sehingga ga nongkrong di kantor terus dan kadang sebelum jam 5 pun sudah pulang. Jadi ia punya waktu lebih dengan anak istri. Saking merasa nyaman dengan pekerjaannya ini, ia menolak promosi dari bosnya karena pekerjaan barunya itu nggak sesantai sekarang. Gue tanya, ga mau pindah lagi ke Jakarta? (Dia teman sekolah gue di Jakarta). Jawabnya, ia udah cukup puas dengan keadaannya sekarang. Punya istri dan anak, rumah kontrakan, motor, dan pekerjaan udah lebih dari cukup. Untuk apa menambah penat dengan pindah ke Jakarta yang udah sumpek? My mind literally struck by lightning at that time.
Kurang ambisiuskah temen gue itu? Apakah ia bagai katak dalam tempurung? Atau justru ialah contoh teladan hidup? OMG, ini sangat bertentangan dengan nasehat Robert Kiyosaki di buku "Rich Dad Poor Dad". Sekilas, temen gue itu seperti si poor dad yang pathetic. Tapi sebentar...gue melihat sedikit perbedaan. Temen gue itu bahagia! Beda dengan si poor dad yang dilukiskan sebagai seorang idealis yang penggerutu. Si poor dad-nya Kiyosaki ini sepertinya orang yang ingin kaya tapi ga kesampaian atau muak dengan cara2nya, sedangkan temen gue emang ga pengen kaya! Si Robert seakan2 mengatakan satu2nya cara untuk bahagia adalah memiliki materi yang elo mau. Nah, temen gue itu udah bahagia dengan apa yang ia punya. Buat gue, Robert Kiyosaki dan si Budi sama2 telah mencapai kebahagiaan. Bedanya, kebahagiaan Kiyosaki adalah duit trilyunan sedangkan kebahagiaannya si Budi adalah bisa makan nasi kucing di angkringan sambil ngangkat 1 kaki.
Gue senang sekali melihat orang seperti Budi yang nggak terlalu mendewakan materi atau terlalu Jakarta-sentris seperti orang kebanyakan. Gue juga merasakan hal yang sama ketika tinggal di Bandung. Pola hidup yang lebih santai dan tenang sangat kontras dengan Jakarta yang serba bikin stress dan materialistis.
Tapi bagaimana caranya untuk menambah wawasan dan pengalaman selain mempunyai ambisi yang besar? Kalo gue tetep di Bandung, mungkin gue ga akan bisa bikin iklan TV, ketemu klien dengan sejuta perangai, ditraktir seafood oleh PH sampe mabok, dugem sampe ampir mabok, dll. Gue menikmati itu semua tapi mungkin nggak ada artinya buat si Budi. Tiap orang emang punya jalannya masing2. Which one are you?
Waktu Jumatan kemaren, sang khotib bicara soal ziarah makam. Katanya dulu, ziarah makam itu nggak diperbolehkan karena takut mengundang syirik. Kemudian pada perkembangannya, di saat syiar Islam udah makin luas dan pemahaman masyarakat sana udah lebih rasional, ziarah itu malah dianjurkan. Gunanya untuk mendoakan arwah dan juga sebagai peringatan kalo suatu saat kita pun akan terbaring di liang lahat.
Gue jadi berpikir. Kalo hukum ziarah bisa berubah, mengapa dalam urusan berkesenian tidak? Seperti kita ketahui, banyak ulama yang mengharamkan instrumen musik bersenar (spt gitar) dan juga penciptaan gambar atau patung makhluk hidup. Gue akan konsen membahas gambar-menggambar ini karena lebih dekat dengan dunia gue.
Beberapa alasan pelarangan menggambar makhluk hidup ini cukup absurd. Katanya di akhirat, kita bakal disuruh menghidupkan makhluk hidup yang kita gambar itu karena mencoba menyaingi kemampuan Allah dalam mencipta. For start, waktu menggambar, gue ga ada niatan sama sekali untuk menyaingi Allah menghidupkan makhluk yang gue gambar. Gue menggambar untuk menginformasikan sesuatu dengan jelas, untuk berekspresi, mengutarakan isi otak gue, dll, tapi yg jelas NOT PLAYING GOD.
Dulu kuda masih ngegigit besi. Sekarang, mungkin kudanya udah main BlackBerry. The world's changing, music's changing, even drugs are changing. You can't still do heroin and listen to Ziggy Pop. (Forgive my politically incorrect reference). Maksud gue, kita ga bisa berpikir dunia masih seperti dulu. Nanti masyarakat dan kebudayaan ga akan maju2. Dan ratusan juta seniman berbakat akan selamanya hidup dengan perasaan bersalah.
Larangan menggambar makhluk hidup memang ga sepenuhnya buruk. Berkatnya, kita bisa melihat seni kaligrafi dan seni abstrak geometri yang indah. Ini adalah sebuah cara berkesenian "Islami" yang cerdas. Ya, kalo karya seni ini diletakkan di mesjid sih cocok2 aja, bahkan harus! Mesjid kan mesti steril dari berbagai distraction untuk fokus kepada Allah. Tapi apakah lantas di luar mesjid harus seperti itu juga? I beg to differ.
Contoh...dalam kerjaan "nista" gue (membuat iklan), dikenal istilah storyboard. Itu adalah kumpulan gambar yang disusun dalam panel2 (seperti komik) untuk menggambarkan cerita/konsep iklan sebelum di-shoot oleh sutradara menjadi film iklan. Storyboarding sangat bermanfaat, karena kita bisa menilai apakah flow ceritanya sudah enak atau apakah ada elemen yang perlu ditambahkan/dikurangi. Kesepakatan antara klien dan biro iklan/production house bisa dicapai dalam tarap storyboard sehingga hasil shooting ga akan melenceng jauh. Ini adalah efisiensi yang sangat nyata.
Oke....mungkin industri iklan contoh yang buruk. Hanya para pembual/penipu yang kerja di sana tokh? Tapi bagaimana dengan dunia kedokteran atau pendidikan. Gambar2/ilustrasi sangat diperlukan untuk memberi informasi dengan jelas atau memberi pengenalan pada anak2. Ya, sekarang memang ada fotografi. Tapi apa iya kita harus mengharamkan Barney atau Sesame Street?
Jaman Nabi dulu, mungkin gambar makhluk hidup amat dekat dengan syirik. Patung sapi atau Firaun kerap disembah sebagai Tuhan. Tapi kini? Berhala itu udah berubah bentuk menjadi uang, tahta, status sosial, Facebook, blog (!), Twitter, BlackBerry, dan macem2. Ibaratnya, kalo patung Pancoran dihancurkan seperti halnya Nabi Ibrahim menghancurkan patung2 sesembahan, orang2 ga akan seheboh kalo internet dicabut dari muka bumi ini.
Gue masih dalam suasana berduka waktu menulis ini usai melihat tim kesayangan gue, Blackburn Rovers digulung Chelsea, 5 gol tanpa balas. Gue setengah setuju dengan para komentator yang bilang malam itu Rovers nggak bermain dengan determinasi alias patah semangat, beda dengan jaman kepelatihan Mark Hughes, apalagi era kejayaan Alan Shearer.
Dari awal, Big Sam sudah menurunkan formasi defensif, dengan menumpuk 5 pemain tengah, dan menyisakan 1 striker. Gue amat sangat tidak suka dengan formasi ini yang menyalahi kodrat Rovers sebagai tim yang doyan menyerang. (permainan fisik sehingga Rovers dijuluki “The Bully Boys” baru muncul saat mereka berjuang dari zona degradasi. Di lubuk hati terdalam, Rovers adalah tim menyerang). Sang komentator juga bilang Rovers salah strategi dengan menerapkan negatif football untuk melawan tim sekelas Chelsea. Dan benar, hasilnya pemain2 Chelsea memborbardir pertahanan Rovers yang emang nggak sedisiplin timnas Italia.
Tapi hei…sebelum anda mencela kenegatifan sepakbola Rovers….bisa saja tokh Big Sam hanya bersikap realistik? Coba bandingkan materi pemain yang dimiliki Blackburn Rovers dengan Chelsea. Dengan uang berlimpah dari Roman Abramovich, Rovers jadi terlihat kayak tim kelas tarkam. Chelsea punya 2 striker kelas kakap, Didier Drogba dan Nicholas Anelka (gaji mereka berdua mungkin akan menghabiskan seluruh anggaran gaji Rovers). Belum lagi di bangku cadangan masih ada Deco, Sturridge, dll yang semuanya juga layak menjadi starter. Sementara pemain cadangan Rovers ya emang layaknya jadi pemain cadangan. Kalaupun Rovers bermain “positif”, menahan seri sudah sebuah prestasi gemilang.
Kesenjangan sosial antar tim Big Four (Manchester United, Liverpool, Chelsea, Arsenal) dengan tim2 lainnya emang berlangsung sejak lama. Hanya sedikit yang bisa mendobrak kemapanan mereka. Salah satunya adalah Blackburn Rovers di musim 1994-1995. Hal ini dimungkinkan dengan dukungan penuh dari pengusaha Jack Walker yang mengucurkan dana yang nggak sedikit untuk mendatangkan manager Kenny Dalglish, dan pemain bintang, seperti Alan Shearer dan Chris Sutton. Ditambah daya juang yang tinggi, Rovers pun berhasil mematahkan dominasi the big four.
Tapi kini, hal itu sepertinya akan sulit diulangi oleh tim2 lainnya. Mengapa? Karena penghamburan uang semakin merajalela, dikompori oleh Chelsea yang memakai dana tak terbatas dari Roman Abramovich. Ya, duit seakan-akan jadi modal utama apabila sebuah tim ingin berbicara di Liga Primer. Langkah Chelsea ini coba diikuti oleh Manchester City yang membeli pemain bintang seperti kacang goreng. Sehatkah ini semua? Buat para pemain yang digaji jutaan Euro sih asik2 aja. Tapi efeknya, Liga Primer Inggris akan tetap menjadi liga milik tim2 kaya dan meniadakan tim2 lain yang kebetulan mempunyai dana pas2an.Betul bahwa semangat juang tim2 gurem kadang begitu tinggi sehingga bisa menjungkirbalikkan berbagai prediksi, tetapi itu peluangnya kecil sekali. Paling2 terjadi saat derby atau saat tim gurem itu ingin lepas dari zona degradasi. Selebihnya, adalah pertandingan yang tidak berimbang.
Dari sisi penonton, terjadi keterbatasan pilihan pertandingan. Mereka baru “ngaceng” kalo yang bertanding itu tim Big Four, seperti MU vs Chelsea. Sedangkan kalo salah satu tim The Big Four melawan tim lain, seperti Arsenal vs Birmingham, mereka sedikit terangsang untuk menebak berapa jumlah gol yang akan bersarang di kandang Birmingham atau bisakah Birmingham menahan seri Arsenal? Dan kalo yang bertanding adalah 2 tim gurem, seperti Sunderland vs Burnley, hampir dipastikan para penonton pergi tidur.
Anehnya, kesenjangan sosial tersebut jarang ditemui pada olahraga profesional di Amerika Serikat, yang sering dituding sebagai biangnya kapitalisme. Gue ga akan ngomongin liga bolanya yang emang masih kalah di banding liga Eropa, tapi cobalah liat kompetisi NBA. Semua tim benar2 diberi kesempatan yang sama untuk menang. Salah satu caranya adalah dengan menerapkan salary cap, yaitu jumlah gaji maksimal yang bisa dibayar sebuah tim kepada pemainnya. Apabila ada yang melanggar, sanksinya sangat berat. Belum lagi sistem perekrutan pemain yang bernuansa “sosialis”. Tim yang memiliki rekor pertandingan terburuk pada kompetisi terakhir akan memperoleh kesempatan lebih besar untuk mendapatkan pemain terbaik di ajang perekrutan (NBA Draft). NBA juga terbiasa dengan sistem barter pemain, bukan jual beli pemain dengan nilai transfer yang gila2an.
Hasilnya? Ga ada tim NBA yang benar2 mendominasi. Tim2 yang berbeda menjadi juara, seperti Boston Celtics, Detroit Pistons, Lakers, Chicago Bulls, Dallas Mavericks, San Antonio Spurs, Miami Heat. Sistem perekrutan dari para pebasket kampus pun memungkinkan regenerasi pemain terus terjaga. Pertandingan antar tim berjalan seru karena materi pemainnya ga berbeda jauh. Tinggal bagaimana tim itu meramu strategi dan memotivasi pemain untuk jadi pemenang.
Agaknya Liga Primer Inggris perlu mengadopsi sedikit unsur “sosialisme” ala Amerika demi sebuah kompetisi yang adil dan seru. Kalo nggak, pilihan tim dukungan akan itu2 aja. Masa dari 20 tim Liga Primer yang bagus cuma 4? Such a waste. We want freedom of choice, not freedom from choice.
Hey, it’s fine if you’re working in UK or USA. But this is Indonesia. Maybe the songs are in English, but your audience is Indonesian. So speak bloody Indonesian, you fools! It’s not so irritating if you can speak English fluently, but you speak it like a drunken fuck.
You’re not impressing anyone. Any “bule” will laugh at your attempt to sound like them. Be honest. Talk like you’d normally talk with your friends. Your “normal” friends.
Perhaps RRI should give some kind of “penataran” to all of you cunts, eh? Or maybe fine you every time you speak English. You still think it’s cool?
English is not a cool language. It’s just another bloody language. Unlike other “sissy” countries, we FOUGHT for our freedom, for our language, for Indonesia Raya, so be fucking proud!
So hear this english-speaking radio DJs, I will immediately turn off my radio if any you speak English instead of our beloved language. Ok?
Orang iklan yang dimaksud di sini adalah mereka yang bekerja di advertising agency dan semacamnya. Entah sebagai Tim Kreatif atau Account, orang2 ini mengetahui hal2 seputar kampanye, promosi, branding, marketing, positioning, dan segala tetek bengeknya.
Gue mengamati banyak orang iklan yang konsumtif, artinya mengkonsumsi produk secara berlebihan, mengikuti mode secara membabi-buta, tanpa memperhitungkan kemampuan finansialnya. Orang iklan yang konsumtif bisa disamakan dengan pengedar narkoba yang jadi junkie. Pengedar semacam ini ga akan bisa jadi mafia kelas kakap, wong barang dagangannya dihabisin sendiri.
Udah nonton film American Gangster garapan Ridley Scott? Orang iklan sebaiknya berperilaku seperti Frank Lucas (diperankan Denzel Washington), seorang mafia papan atas yang penampilannya dari luar seperti businessman pada umumnya, nggak aneh2. Perilakunya pun cenderung sopan, sehingga masyarakat dan bahkan musuhnya segan. Tentu ia sesekali memakai narkoba, tapi nggak pernah menjadi junkie.
Orang iklan yang norak bisa disamakan dengan karakter Nicky Barnes (Cuba Gooding Jr.) yang hidupnya berfoya-foya, glamor, sangat konsumtif. Seperti ungkapan tong kosong nyaring bunyinya, orang2 semacam ini sama sekali nggak berisi. Orang iklan yang konsumtif akan menjadi tertawaan karena jauh dari kesan bahwa ia adalah pencipta konsumerisme tersebut. Bahkan sebaliknya, ia yang menjadi “korban mode”.
Orang iklan seharusnya kebal terhadap image building yang dibangun oleh berbagai brand. Nggak ada yang salah dengan image building, cuma orang iklan seharusnya bisa melihat mana yang cuma gimmick, akal2an produsen untuk mencurangi konsumen, dan mana image yang tulus. Sangat menyedihkan kalau orang iklan tertipu dengan iklan yang menyesatkan. Contoh paling mudah adalah gue sendiri yang pernah ketipu dengan foto hamburger yang kelihatannya begitu besar dan appetizing. Padahal, bentuk aslinya lebih kecil dan nggak menarik. Gue yang tau sedikit soal fotografi dan Photoshop harusnya lebih aware akan hal ini.
Memang benar orang iklan harus selalu up to date dengan apa yang trend saat ini, harus dekat dengan target audience dari produk klien atau kompetitor. Tapi bukan berarti kita harus mencoba semua produk yang tersedia di pasar! Bagus kalo dibayarin kantor, tapi kalo gaji kita cuma cukup untuk gaya hidup kelas B-C gimana? Ga ada gunanya maksain diri punya Blackberry, Ferrari atau Lamborghini kalo emang belom mampu. Kita toh bisa tau trend atau produk itu melalui sumber2 lain, seperti majalah, TV, internet, ngobrol langsung dengan pengguna, dll. Jadi mengamati trend itu wajib, menciptakan trend itu pahalanya berlipat ganda, sedangkan jadi korban trend adalah lelucon.
Menjadi korban trend/ korban mode adalah ciri manusia yang tidak kreatif. Alangkah baiknya kalo orang iklan mempunyai kreasi di luar pekerjaannya sebagai pembuat iklan. Fotografi, membuat film pendek, melukis, dll., jauh lebih positif daripada sekedar mengkonsumsi apa yang udah ada.
Ya, bangsa Indonesia baru ketimpa musibah bom (lagi). Seakan-akan para teroris itu masih melihat bom sebagai solusi paling jitu bagi permasalahannya. Islam, ya, lagi2 Islam yang akan dituding sebagai biang keladi. Melihat perkembangan kasus ini, sepertinya sih emang didalangi Jamaah Islamiyah. Apa lagi yang memotivasi seseorang melakukan bom bunuh diri, selain iming-iming surga dari kiai yang berpikiran sempit?
Para Islam moderat (mayoritas dari kita, semoga) akan berada pada posisi denial, mereka menyangkal keterlibatan kaum muslim karena Islam adalah agama yang (seharusnya) menjadi rahmat bagi seluruh umat manusia. Mereka akan menuding ada konspirasi di belakang ini, yang bertujuan menjelek-jelekkan umat Islam. Siapa lagi kambing hitamnya kalo bukan Yahudi. Benarkah demikian? Belum ada bukti kuat, yang jelas gue sendiri berharap yang melakukan ini bukan orang Islam.
Tapi di dalem hati pun gue memaklumi kalo pengeboman ini mungkin dilakukan oleh segelintir orang Islam, tanpa konspirasi Yahudi. Mereka adalah kaum muslim terpinggirkan, secara mental ataupun material. Secara mental, mereka adalah kaum menengah (bahkan atas) yang kaya raya dan berpendidikan tinggi tapi otaknya agak ngaco, kayak Osama Bin Laden. Golongan kedua adalah orang2 yang membenci Barat karena mereka hidup melarat dan nggak berpendidikan.
Coba dengar khotbah di mesjid2 pinggiran yang berapi2. Nadanya selalu penuh amarah. Topik2 yang umum adalah siksa kubur, anti emansipasi wanita, dan yang paling bikin muntah, anti toleransi beragama. Berkali-kali kata2 kafir muncrat dari speaker mesjid, menghujat umat2 selain Islam seakan-akan mereka pasti masuk neraka. Kiai2 judgmental tersebut telah menempatkan dirinya sebagai Tuhan.
Apakah Bunda Theressa akan masuk neraka? Albert Einstein? Leonardo Da Vinci? Leonardo Di Caprio? Nama2 tersebut ga pernah ngeledakin bom untuk teror (kecuali Albert Einstein, yang sedikit terlibat pembuatan bom atom). Sumbangannya buat dunia jelas lebih besar dari mereka para penebar teror, yang cuma bisa menghancurkan.
Pertama-tama kita mari kita syukuri karena pemilihan presiden kemarin berjalan damai. Walau beberapa pihak menyuarakan protes atas kekurangan dan kecurangan di sana-sini, mayoritas masyarakat sepertinya adem-ayem aja. Semoga ini bukan tanda apatisme, melainkan cerminan dari stabilnya suhu politik negara kita. Huru-hara protes hasil pemilu sepeti di Iran pun nggak kejadian. Amit-amit.
Sampai saat ini memang belum ada data resmi dari KPU, namun berdasarkan quick count yang dilakukan berbagai lembaga, pasangan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Boediono menang mutlak. Jusuf Kalla-Wiranto secara mengejutkan menempati posisi buncit, bahkan tertinggal cukup jauh dari Megawati-Prabowo.
Apa yang bisa dimaknai dari kemenangan kembali SBY? Tentu banyak metode yang bisa dipakai untuk menganalisa, dari yang ilmiah sampai klenik. Kali ini, perkenankan saya untuk membedah dari sudut pandang komunikasi massa khususnya branding, yang merupakan irisan dari metode ilmiah dan klenik. Ha!
“Brand” SBY memang untuk saat ini masih terlalu kuat dibanding yang lain. Seperti halnya mobil Mercedez, nggak perlu iklan untuk membuatnya menjadi top of mind. Bahkan, iklan2 buatan Mallarangeng bersaudara cenderung merusak citra SBY karena terlalu murahan. Sungguh sesuatu yang mubazir, karena seandainya digarap dengan baik, perolehan suara SBY bisa lebih tinggi lagi. Diperparah lagi dengan kontroversi pidato Andi M di Makassar. Walaupun, secara pribadi saya merasa nggak ada yang salah dari pernyataannya, masyarakat cuma lagi hyper-sensitive. Secara keseluruhan, bisa disimpulkan bahwa produk yang pada dasarnya kuat akan menjual dengan sendirinya, walaupun iklannya jelek.
Nah, bagaimana dengan capres2 yang lain? Jusuf Kalla mempunyai tim sukses yang sepertinya lebih mengerti dalam membuat iklan. Iklan TV-nya yang terakhir, tentang pemimpin yang plin-plan dan terlalu lama mengambil keputusan, cukup menohok dan disajikan dengan cara yang cerdas. Belum lagi “kreatifitas” seperti permainan singkatan JK=Jalan Keluar. Cukup menyegarkan di tengah kampanye politik yang basi. Jusuf Kalla sendiri tampil “menghibur” di acara debat calon presiden putaran kedua.
Tapi mengapa oh, mengapa perolehan suaranya tidak memuaskan? Kembali lagi ke produknya. Harus diakui, kharisma Jusuf Kalla masih belum cukup menandingi SBY. Gayanya yang apa adanya – bahkan cenderung “sembarangan”- terlihat kurang seksi di mata publik. Resistensi lain adalah fakta bahwa ia seorang pengusaha yang cuma ingin memperkaya diri sendiri (dan kroninya). Seorang musisi ketika diwawancara sebuah majalah musik menambahkan, jijik melihat buih putih di mulut JK ketika ia berbicara. Nah, tambah cacat kan produknya? Jadi memang benar, iklan sebaik apapun nggak akan menyelamatkan produk yang kurang baik.
Kemudian ada lagi Megawati-Prabowo. Iklan2 buatan tim ini cukup bombastis, khas Gerindra, sehingga menimbulkan kesan yang memimpin kampanye ini adalah kubu Prabowo. Ya, terlihat di beberapa kesempatan - terutama di awal pencalonan - Prabowo sebenarnya berkeinginan kuat menjadi calon presiden. Tapi apa daya, perolehan suara Gerindra di pemilihan legislatif masih jauh di bawah PDI-P.
Langkah tim sukses Megawati-Prabowo yang melangsungkan penandatanganan deklarasi di Bantar Gebang, Bekasi sangat tepat untuk mendekati target audience mereka, para wong cilik. Sebuah manuver yang berani untuk meng-counter deklarasi SBY-Boediono yang bermewah-mewah di Sasana Budaya Ganesha, Bandung. Penajaman target audience ini cukup membantu kampanye yang bersuara nasionalisme dengan gaya berapi-api Bung Karno.
Sayang sekali antusiasme Prabowo dalam kampanye ini tidak diimbangi Megawati. Mungkin capek dengan penindasan di jaman Orde Baru atau ingatan tentang bagaimana ia digulingkan dari kursi kepresidenan, masih menyisakan “kesinisan” di setiap kesempatan Megawati tampil. Alih-alih menyuarakan visi, Mega lebih banyak memainkan “orkes sakit hati”. Pada awalnya memang memancing simpati, tapi lama-kelamaan publik capek juga. Agaknya mereka butuh pemimpin yang lebih sedikit optimis. Beruntung sekali faktor Bung Karno dan kesan satu-satunya pembela wong cilik masih membekas di masyarakat, sehingga perolehan suara Megawati-Prabowo nggak jelek-jelek amat. Para pemilih PDI-P pun solid, berbeda dengan Golkar.
Jadi, dalam pemilihan presiden kali ini nggak ada calon yang konsep kampanye dan produknya sama bagus, sehingga rakyat belum mendapat pembelajaran politik yang baik. Sarana seperti iklan TV, radio, cetak, internet, debat calon presiden, dll., tidak dimanfaatkan dengan baik. Saya benci membandingkan pemilihan presiden kita dengan Amerika Serikat, tapi gimana dong? Coba lihat kampanya Barack Obama yang memanfaatkan Facebook dan acara debat capres secara maksimal. Di Amerika, internet menjadi media alternatif yang lebih menjanjikan dibanding TV yang cluttered. Memang, hal ini belum bisa diterapkan di Indonesia. Tapi dengan konsep kampanye yang dipikirkan masak2, para capres di sini bisa menggunakan media2 yang lebih cocok untuk mereka, bukan mengotori jalanan dengan spanduk2 yang tidak bermakna.